Setiap barang yang melintas batas negara memiliki sebuah kode unik yang disebut HS Code (Harmonized System Code). Kode ini menentukan berapa besar bea masuk yang harus Anda bayar, apakah barang membutuhkan izin khusus, dan bagaimana barang Anda diperlakukan oleh bea cukai Indonesia.
Salah satu kesalahan paling umum importir pemula adalah menggunakan HS Code yang salah — akibatnya bisa berupa kelebihan bayar pajak, atau lebih buruk lagi, barang tertahan di bea cukai.

Apa Itu HS Code?
HS Code adalah sistem klasifikasi barang internasional yang dikembangkan oleh World Customs Organization (WCO) dan digunakan oleh lebih dari 200 negara. Di Indonesia, sistem ini diadopsi dalam bentuk BTKI (Buku Tarif Kepabeanan Indonesia).
Struktur HS Code terdiri dari 8 digit (di Indonesia menggunakan 8 digit, beberapa negara 10 digit):
- 2 digit pertama: Chapter (kelompok besar barang)
- 4 digit pertama: Heading (sub-kelompok)
- 6 digit: Sub-heading (standar internasional WCO)
- 8 digit: Pos tarif spesifik Indonesia
Contoh: HS Code 8517.12.00
- 85 = Chapter: Mesin dan peralatan listrik
- 8517 = Heading: Aparatus telepon
- 8517.12 = Sub-heading: Telepon untuk jaringan seluler
- 8517.12.00 = Smartphone
Cara Mencari HS Code Barang yang Tepat
1. Gunakan Portal Bea Cukai Indonesia
Cara paling resmi adalah menggunakan Indonesia National Single Window (INSW) atau portal tarif DJBC di insw.go.id. Masukkan deskripsi barang dalam bahasa Indonesia atau Inggris untuk mendapatkan HS Code yang berlaku.
2. Lihat Invoice atau Packing List Supplier
Supplier dari China yang berpengalaman biasanya sudah mencantumkan HS Code di invoice atau packing list mereka. Namun perlu diverifikasi, karena HS Code di China (CN Code) bisa berbeda dengan HS Code Indonesia.
3. Konsultasi dengan Freight Forwarder
Jika Anda tidak yakin dengan HS Code barang, terutama untuk produk teknis atau gabungan beberapa komponen, konsultasikan dengan freight forwarder berpengalaman seperti ArmoCargo. Kesalahan HS Code bukan hanya masalah tarif — bisa memicu pemeriksaan fisik yang menghambat pengiriman.

Cara Membaca Tarif dari HS Code
Setelah menemukan HS Code yang tepat, Anda bisa langsung melihat:
- Tarif Bea Masuk Umum (MFN) — tarif standar yang berlaku untuk semua negara
- Tarif preferensial ASEAN-China (ACFTA) — tarif lebih rendah untuk impor dari China berdasarkan perjanjian perdagangan bebas. Untuk banyak produk, tarif ACFTA bisa 0% sementara tarif MFN bisa 5–15%
- Larangan dan pembatasan (Lartas) — apakah barang memerlukan izin impor tambahan (BPOM, SNI, Kemendag)
Manfaatkan Tarif ACFTA untuk Import dari China
Indonesia dan China tergabung dalam ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA). Ini berarti banyak produk China yang masuk ke Indonesia mendapat tarif preferensial — bahkan 0% untuk kategori tertentu.
Untuk mendapat tarif ACFTA, barang harus disertai Form E (Certificate of Origin China-ASEAN) yang dikeluarkan oleh otoritas China. Pastikan supplier Anda menyertakan Form E dalam dokumen pengiriman.
HS Code Populer untuk Import dari China
| Barang | HS Code | Tarif MFN | Tarif ACFTA |
|---|---|---|---|
| Smartphone | 8517.12.00 | 0% | 0% |
| Laptop | 8471.30.00 | 0% | 0% |
| Pakaian jadi (katun) | 6109.10.00 | 20% | 5% |
| Sepatu kulit | 6403.99.90 | 20% | 0% |
| Mainan anak | 9503.00.90 | 15% | 0% |
| Kosmetik | 3304.99.90 | 10% | 0% |
Bantuan Identifikasi HS Code dari ArmoCargo
Tim ArmoCargo memiliki pengalaman menangani lebih dari ratusan jenis barang impor dari berbagai negara. Kami membantu:
- Identifikasi HS Code yang tepat dan sesuai regulasi DJBC
- Verifikasi tarif ACFTA dan ketersediaan Form E
- Cek Lartas — apakah barang Anda memerlukan izin tambahan sebelum dikirim
- Konsultasi gratis sebelum Anda melakukan pemesanan ke supplier
Hubungi kami di WhatsApp +62-813-8855-618 sebelum tanda tangan Purchase Order.







